PARAMETER KEMATIAN HATI

hati-yang-mati

» ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ «

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 74).

Saudaraku,
Siang itu kota Rasulullah SAW terasa begitu terik. Angin berhembus membawa hawa panas, seperti menampar wajah yang lelah.

Kala itu ada seorang sahabat yang bertanya kepada Hudzaifah bin Yaman r.a perihal indicator hati yang mati?.

Hudzaifah r.a menjawab:

» اَلَّذِيْ لاَ يُنْكِرُ الْمُنْكَرَ بِيَدِهِ وَلاَ بِلِسَانِهِ وَلاَ بِقَلْبِهِ «

“Yaitu orang yang tak mencegah kemungkaran dengan tangannya, tidak juga dengan lisan dan hatinya.”
(Mawa’izh as-shahabah, Shalih Ahmad al-Syami).

Saudaraku,
Jangan sekali-kali kita terpesona dengan tampilan luar, kemilaunya aura fisik. Rajin mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Jubah yang selalu dikenakan. Peci dan sorban yang menyertai kemana ia pergi. Mushaf al-Qur’an yang selalu dibawa kemana-mana. Tasbih yang tergenggam di tangan. Simatnya sejuk. Atau orang-orang sekitar biasa memanggil tuan guru, ajengan dan semisalnya. Dan seterusnya.

Jika dalam kesehariannya, ia tak pernah memberi warna keshalihan kepada orang lain. Tak pernah berbagi kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tak pernah ada upaya untuk menghilangkan virus maksiat dan mencabut akar dosa di lingkungannya. Bahkan ia membiarkan menjalarnya wabah kebodohan dan penyimpangan akidah, akhlak dan pemahaman agama di tengah-tengah masyarakat.

Tidak tergerak hati membela kitab suci saat dinistakan. Tiada riak kemarahan saat agama dilecehkan. Tiada rasa geram saat rasul junjungan dilecehkan. Dan yang senada dengan itu.

Sejatinya ia telah mengalami kematian bathin. Kelayuan hati nurani. Kegersangan jiwa. Walaupun ia hidup secara zahir. Jantung ruhaninya telah berhenti berdetak walau raganya masih tetap bergerak.

Wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya seperti tiada. Itulah pribahasa Arab untuk membahasakan seseorang yang tidak memberikan andil dan peran postitif di masyarakatnya. Tiada kegalauan dan kecemasan melihat kondisi umat yang semakin memilukan.

Saudaraku,
Kita tentu tidak ingin mengalami kematian ruh sebelum kematian jasad. Oleh karena itu perlu kita buktikan di hadapan-Nya bahwa kita masih layak dikelompokkan sebagai orang yang hidup. Yang bisa menjauhkan mudharat dan mara bahaya bagi diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

Jika kita memiliki kekuatan dan kekuasaan, maka kekuatan dan kekuasaan itu kita pergunakan untuk mendatangkan maslahat, kebaikan dan kebajikan untuk masyarakat. Memblokir dan bahkan menghalangi dan menutup semua jalan yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat, kemudharatan dan kehinaan. Kenistaan dan kezaliman.

Jika suara kita didengar oleh umat. Karena kita sebagai buya, ajengan, tuan guru, kyai, ustadz, penceramah dan yang senada dengan itu. Maka dengan lisan kita berjihad, bersungguh-sungguh mentransfer pemahaman yang benar ke dalam hati dan akal masyarakat. Menyingkirkan duri dosa dan maksiat yang dapat mencelakakan umat. Mengingatkan mereka dari perilaku dosa dan kecerobohan yang dapat melemparkan mereka ke dalam jurang neraka.

Juga mendekatkan masyarakat kepada perilaku ahli surga. Yang mana kenikmatan surga itu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit di dalam hati manusia.

Saudaraku,
Sebagai masyarakat umum alias awam. Kita pun tak bisa tinggal diam membiarkan bakteri maksiat dan dosa menyebar dan mewabah di tengah-tengah masyarakat. Minimal kita membentengi diri kita dan keluarga kita agar tak terjangkit wabah berbahaya tersebut.

Jika masing-masing keluarga memiliki pemahaman seperti ini, insyaallah maksiat dan dosa tidak akan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dan bahkan bisa jadi ia akan menyingkir dan menjauh dari daerah kita.

Saudaraku,
Jika kita tengok alam di sekitar kita saat ini. Perjudian sulit dihentikan. Rumah remang-remang semakin diminati sebagian orang. Orang yang tidak berpuasa justru bangga dengan keteledorannya. Masjid semakin sepi dari pengunjung. Al -Qur’an semakin jauh ditinggalkan oleh umat Islam. Praktek jual beli riba semakin semarak. Perzinaan semakin subur. Perselingkuhan menjadi berita biasa. Penistaan agama dianggap biasa dan seterusnya.

Hal ini membuktikan bahwa tidak sedikit dari kaum muslimin dan muslimat. Dan mungkin juga kita. Yang telah bergelar al-marhum. Meskipun nafas kita masih berhembus. Kita telah mengalami kematian ruh. Sebab tangan, lisan dan hati kita telah mati. Tak tergerak untuk memberikan warna kebaikan bagi orang lain. Tak memiliki andil bagi perbaikan umat.

Saudaraku,
Tidak sedikit di antara kita yang merintih pilu, saat sakit mendera tubuh kita. Tidak sedikit di antara kita yang bersimbah air mata saat orang-orang dekat meninggalkan kita.

Tapi sudahkah kita menangis saat hati kita terkulai lemah, sakit dan bahkan mati?. Sudahkah kita tergerak untuk menghidupkan hati kita dan hati orang-orang di sekitar kita yang telah mati?.

Adakah kita selalu berupaya mengobati penyakit hati kita dan memberi penawar bagi hati kita dan hati masyarakat kita yang telah sakit. Atau member obat bagi hati-hati kita yang tengah terluka?

Sering-seringlah kita bertanya dan berdialog kepada hati nurani kita yang paling dalam. Karena di sana ada jawaban yang kita inginkan. Tiada musibah yang lebih besar, daripada musibah kematian hati, tapi kita tidak menyadarinya. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 10 November 2016
Fir’adi Abu Ja’far el-Thayyar

Share This: